Minggu, 20 Desember 2015

SINAR DESA


SINAR DESA

Sinar Desa merupakan salah satu perusahaan yang besar dan sukses di Aceh dan termasuk perusahaan ke-3 terbesar di Medan menurut KADIN Medan (kamar dagang industri). Sinar Desa didirikan oleh bapak H.M.Ali Mahmud yang lahir pada tanggal 30 Desember 1939 (76 tahun) di desa Leupung Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar.
Awal mula berdirinya Sinar Desa pada tahun tujuh puluhan, bapak Ali mendirikan perusahaannya tanpa modal sendiri. Melainlkan hasil sumbangan dari masyarakat Leupung. Dulunya pak Ali hanyalah pemuda kampong biasa dan juga ketua pemuda di kampong tersebut yang hanya berpenghasilan Rp50.000 perhari, namun pak Ali memiliki rasa social yang sangat tinggi, mudah bergaul dengan masyarakat  dan dikenal dengan pemuda yang sangat jujur. Oleh karena itu  masyarakat Leupung menyumbang 1 Kg cengkeh untuk pak Ali yang disumbang oleh 3500 masyarakat, karena pada saat itu di Leupung sangat banyak pohon cengkeh. Sehingga terkumpullah 1 truck cengkeh yang kemudian dijual ke Banda Aceh di toko emas Daud Mansur. Dari hasil menjual cengkeh, pak Ali membeli 2 unit mobil pickup cargo. Kemudian Pak Ali berdagang kayu ke Barat Selatan Aceh. Setelah 3 bulan berdagang kayu pak Ali berhasil memperoleh keuntungan dan membeli 2 unit mobil. setelah memperoleh 4 unit mobil, pak Ali menambah usahanya dengan berdagang buah manggis, durian dan hasil alam lainnya yg ada di Leupung. Hasil bumi ini kemudian dipasarkan di Penayong, Banda Aceh.
Keuntungan dari berdagang hasil bumi di Peunayong, pak Ali membeli lagi mobil Datsun sebanyak 10 unit. Setelah berhasil berdagang hasil bumi pak Ali menambah usahanya dengan membuat Bagan Ikan, yang mana hasil dari bagan ikan itu dipasarkan di Banda Aceh. Suatu keberuntungan yang dialami oleh H. Ali, dia memperoleh keuntungan yang besar itu bisa didapatkannya karena pengalamannya dari usaha dagang, sehingga pak Ali membuka pabrik kayu atau panglong kayu di Leupung yang dinamakannya Sinar Desa. Dari situlah awal mulanya berdiri Sinar Desa. Saat itu Sinar Desa masih usaha kecil belum menjadi sebuah perusahaan (PT) dan belum memiliki akte.
Pada saat itu pak Ali hanya memasarkan kayunya daerah Aceh saja, lalu pada suatu hari dia bertemu dengan temannya yaitu bapak Bambang Adiyoso, dia adalah seorang pengusaha di Banda Aceh dan berkata kepada pak Ali “bapak kan sudah memiliki pabrik kayu bagaimana kalau bapak membuka Bank Exim (export dan Import)” lalu pak Ali menjawab “untuk apa export import?  Saya kan orang kampong” dijawab lagi oleh pak Bambang “karena bapak punya pabrik kayu kita bisa mexport kayu bapak ke luar negeri, kalau bapak mau biar saya yang  mengurus surat izinnya semua” pak Ali menjawab lagi “yasudah coba bapak urus surat izinnya”. Disitulah kemudian Sinar Desa menjadi sebuah perusahaan (PT). Lalu Sinar Desa memproduksi kayu molding untuk di export yang modalnya diberi pinjaman oleh pak Bambang sebanyak Rp100.000.000. Sinar Desa tidak hanya mengexport kayu tetapi juga mengimport barang-barang dari luar negeri, yang dulu di Aceh banyak dikenal dengan barang dari Sabang. Setelah 3 tahun berjalan bisnisnya pak Ali naik ke puncak daun karena pada masa itu terjadi transisi masa orde lama ke orde baru, yang pada saat itu harga dollar melambung tinggi dari Rp2000 / US$1 menjadi Rp15.000 / US$1, Sinar Desa pun makin banyak mengexport produknya ke luar negeri.
 Setelah berjayanya Sinar Desa dalam mengexpor dan import, Sinar Desa pun banyak melahirkan anak-anak perusahaannya yang salah satunya adalah Kapal Motor (KM) Sinar Desa yang digunakan para nelayan untuk mencari ikan di laut. Pada saat terjadinya gempa dan tsunami agak terhenti bisnisnya dalam perkapalan di Lampulo, namun setelah kembali pulih perekonomian masyarakat Pak Ali menambah modal yaitu dengan menambah beberapa unit kapal motor. Hingga sekarang Pak Ali memiliki 18 Kapal Motor yang ada di Krueng Aceh tepatnya di Lampulo, sebulan yang lalu Sinar Desa meresmikan pabrik es balok PT. Sinar Harapan yang letaknya di Leupung, yang mana pembuatan pabrik es tersebut menelan biaya mencapai 20 Miliar dikelola bapak Nazarudin atau sering disapa Dek Gam.
Selain bisnisnya dalam perkapalan nelayan pak Ali juga menambah usahanya seperti  berbisnis dalam sektor minyak yaitu pak Ali memiliki 4 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) diantaranya 2 unit berada di Aceh dan 2 unit lagi berada di Medan. Pak Ali juga memiliki 2 hotel, yaitu 1 hotel transit yang ada di jalan Gajah Mada dan 1 lagi hotel biasa dua-duanya berada di Medan. Sinar Desa juga memiliki 29 unit gudang di Medan, yang mana gudang tersebut disewakan kepada orang lain biaya sewa pertahun sekitar Rp350.000.000,-. Sinar Desa juga memiliki puluhan Ruko di Medan.
Anak-anak perusahaan Sinar Desa yang lain adalah PT. Sinar Desa Group, perusahaan tersebut medistribusikan produk Toyota, Bintang Toedjoe, dan Nestle. Anak perusahaannya yang lain adalah PT. Putra Sinar Desa yang menjadi Suplayer CocaCola ke seluruh Indonesia. Selanjutnya adalah PT. Beuna Seurakan adalah perusahaan yang mendistribusikan produk semen Andalas. Kemudian PT. Bina Desa adalah perusahaan Kebun Sawit. Yang terakhir PT. Cibina Murni adalah perusahaan yang mendistribusikan produk Pupuk Iskandar Muda (PIM). Keseluruhan anak perusahaan Sinar Desa dirangkul oleh sebuah koperasi yang dinamakan SINDESCOM (Sinar Desa Company) yang dikelola oleh mantan Direktur Utama Bank BPD Aceh yaitu H. Aminullah Usman yang mana semua keuntungan dihimpun di koperasi Sinar Desa, yang juga sebagian keuntungan disalurkan ke badan amil zakat. Pada bulan yang lalu Sinar Desa juga bekerja sama dengan Perusahaan pabrik kertas dan tisu terbesar di Riau Pekan Baru untuk mendistribusikan produk mereka ke Jakarta dan sekitarnya.
Perusahaan Sinar Desa ini 90% dikelola oleh H. Muslim MA sekaligus Direktur Utama anak pertama dari H.M. Ali Mahmud. Adapun system pengelolaan perusahaan atau manajemen perusahaan semuanya diurus oleh tenaga ahli termasuk H. Aminullah Usman kepala Administrasi Sinar Desa di Medan. Dalam menjalankan bisnisnya Pak Ali tidak memiliki pesaing namun pesanding. Pak Ali merasa perusahaannya tidak ada pesaing karena perusahaan Sinar Desa sudah banyak dikenal oleh perusahaan-perusahaan besar lainnya di Indonesia. “setiap dalam menjalankan bisnis tentunya pasti memiliki seribu kendala, namun Sinar Desa mengatasinya dengan bermusyawarah dan bersilaturahmi termasuk mengajak kepala-kepala Bank, Aparat, Kapolda, Pangdam, dan Kepala-kepala dinas yang lain agar tidak terjadi masalah”, begitulah ujarnya Direktur Utama Sinar Desa dalam sesi wawancara.(14/12/2015) Lampulo.
            Setelah puluhan tahun berjalan usahanya pak Ali tidak lagi banyak memikirkan usahanya sekarang, karena pak Ali memiliki 7 anak. Sekarang yang mengolala bisnisnya adalah semua anak-anaknya, pak Ali banyak menghabiskan waktunya di Lampulo dengan berjualan ikan. Karena salah satu hobinya adalah menjadi toke boat. Perkapalan nelayan di lampulo bukan lagi sebagai bisnis utama baginya melainkan kesenangan baginya. Sebagian besar keuntungan dari kapal nelayan pak Ali banyak mensedekahkan untuk anak yatim, fakir miskin dan pembangun mesjid. Pak Ali juga memiliki rasa social yang sangat tinggi, banyak masyarakat Leupung yang dipekerjakan di perusahaannya sehingga banyak masyarakat yang sangat menghormati dan menghargai pak Ali. Karena dulunya usaha Sinar Desa dibantu oleh masyarakat Leupung, maka dari itu Sinar Desa sangat banyak membantu perekonomian masyarakat Leupung. Selain masyarakat Leupung yang terserap tenaga kerja di perusahaan tersebut juga banyak menyerap tenaga kerja hingga ribuan tenaga kerja. Direktur Utama Sinar Desa mengatakan “ Sinar Desa ini jaya berkat do’a ulama, anak yatim, fakir miskin dan masyarakat Leupung. Sinar Desa ini juga merupakan titipan atau perantara dari Allah untuk membantu anak yatim dan fakir miskin” begitulah kata Toke Muh anak Toke Ali.

kapal motor nelayan Sinar Desa


wawancara exclusive Direktur Utama PT. Sinar Desa, H. Muslim MA (toke muh)

 Penyusun Artikel
  • Muhammad RidhaTullah
  • Ari Munandar
  • Sri Eida Rosalia
  • Rahmad Syukrawi
  • Meirzal

    Dosen Pembimbing : Fahmi Yunus,S.E., M.S